Thursday, September 7, 2017

Cafeine: Pizza Fact (Part I)

Minggu. Suara bel apartemen terdengar berkali-kali dan membangunkanku dari mimpi. Dengan mata setengah terbuka kulihat jam di samping tempat tidurku. Sembilan lewat tiga puluh. Seketika aku beranjak dari kasur dan bergegas berjalan ke arah pintu seraya bunyi bel yang masih terus berdering.

"Ya ampun, Nata! Kamu kemana sa— kamu baru bangun tidur?!" tanya seseorang di balik pintu apartemenku.

"Maaf, Alina. Aku lupa memasang alarm pagi ini dan ya, aku tau kamu sudah menunggu agak lama. Yuk, langsung masuk saja."

"Setengah jam, Ta, setengah jam! Aku sudah menekan tombol bel apartemenmu selama setengah jam! Kamu menyuruhku datang jam sembilan kan?" kata Alina mengomel seraya berjalan ke dalam apartemenku.

"Iya aku tahu, Alina. Aku minta maaf ya."

"Ya sudah. Aku duduk ya, Ta."

"Silakan. Kopi?"

"Tidak, nanti saja."

"Baiklah, tunggu sebentar ya. Aku mau mandi dulu."

Aku berjalan ke kamar mandi untuk mandi dan berganti pakaian. Kemudian aku kembali ke ruang tengah dimana Alina sedang menunggu. Ternyata ia sedang membaca sebuah buku sambil bermain dengan kucing peliharaanku.

"Namanya Blues", ujarku.

"Nama yang bagus. Dia jinak sekali, Ta. Lucu, deh."

"Omong-omong, kamu juga suka Sherlock Holmes?"

"Maksudmu?"

"Itu. Buku yang kamu baca barusan. Sherlock Holmes, kan?"

"Oh aku hanya mengambilnya secara acak dari rak bukumu, Ta. Tidak apa, kan?"

"Kalau mau, pinjam saja."

"Beneran nih? Terima kasih ya, Ta! Sepertinya bukunya menarik."

"Kita langsung berangkat yuk? Adhy juga sudah menuju ke sana"

"Ke kedai pizza itu kan? Tapi jangan lupa singgah di Cafeine dulu ya, Ta. Aku ingin lihat pekerjaan Riana sebentar."

"Riana?", tanyaku bingung.

"Barista baru yang sempat aku ceritakan itu loh, Ta. Lupa?"

"Oh, aku ingat. Baiklah, yuk berangkat."




N.B. Sebetulnya aku tidak ingat Alina pernah berbicara tentang seseorang bernama Riana.

_____
5

Tuesday, July 29, 2014

Cafeine: Morning Sugar

"Kalau tidak salah, Sheila." kata Alina seraya menaruh secangkir teh dan sepiring roti di mejaku.

"Yakin?"

"Iya, Ta. Vokalis band waktu itu menyebut nama dia ketika ia kembali ke tempat duduk."

"Vokalis itu kenal dengan dia?"

"Sepertinya ia baru menanyakan nama nona itu ketika ia diminta naik untuk bernyanyi. Nona itu punya suara yang bagus, sepertinya lumayan cocok untuk jazz"

"Kalau begitu, sayang sekali aku tidak di sini waktu itu."

"Ia punya kemiripan denganmu, Ta."

"Apa?"

"Ia selalu duduk di sini, di sofa sudut. Bedanya, ia di lantai satu, kamu di lantai dua. Tapi ia sempat duduk di tempatmu sekarang ini."

"Kapan, Lin?"

"Senin lalu, saat kamu tidak datang ke sini. Seingat aku, hanya sekali itu."




N.B. Tehnya cukup manis dan pekat. Mungkin Alina sendiri yang membuatnya.

_____
4

Thursday, March 27, 2014

Cafeine: The Stare

Jumat, senja. Baru saja duduk di sofa biru tua seperti biasa, di Cafeine. Sekarang Cafeine sudah mulai ramai pengunjung. Sore ini beberapa pria dengan jas duduk di bangku yang sejajar denganku. Tiga orang, dua di antaranya berambut coklat. Melihat penampilan dan mendengar sedikit pembicaraan mereka, aku menerka mereka bertiga merupakan rekan kerja dalam bagian marketing suatu perusahaan, entah perusahaan apa. Mendadak aku merasa tidak ingin mengamati lebih lanjut, dan mulai membakar rokok yang sudah kupegang beberapa menit.

"Cappuccino kamu nih, Ta." ujar Alina seraya menaruh kopi pesananku di meja. "Rasanya sudah cukup manis, kok. Aku yakin kali ini sesuai dengan selera kamu."

"Terima kasih, Lin."

"Sama-sama. Aku langsung ke bawah ya, Ta. Hari ini ramai pengunjung jadi aku agak sibuk"

"Alina! Hari ini ada live music, tidak?" tanyaku dengan suara agak lantang pada Alina yang sudah hampir menuruni tangga.

"Jam 7 malam, Nata! Aku ke bawah duluan ya!"

Baru saja Alina turun, seorang wanita membuka pintu dan mengintip ke arahku, kemudian langsung menutupnya kembali. Sekilas tampak seorang wanita muda dengan rambut agak kecoklatan dan kulit cerah khas asia, memakai pakaian rapi dan rok. Meskipun begitu, tatapannya terasa lumayan tajam. Sisanya, aku tidak sempat memperhatikannya. Walaupun sempat penasaran dan bertanya-tanya dalam hati, akhirnya aku lebih memilih menikmati langit sore dari sofa favoritku di Cafeine.

Malam itu diselimuti alunan musik jazz yang merdu. Walaupun aku tidak terlalu mengerti dan menikmat musik jazz, tapi lagu-lagu yang mereka bawakan cukup menarik. Ternyata tiga pria yang mengenakan jas tadi sore adalah bagian dari personil band tersebut.

Pukul 9 malam. Aku turun karena ingin kembali ke apartemen. Sebelumnya, aku ingin menanyakan sesuatu pada Alina. Alina sedang berdiri di samping meja untuk melayani pelanggan. Ia melihatku berjalan ke arahnya dan memberi tanda agar aku menunggu sambil berbisik "Sebentar". Selesai mencatat pesanan pelanggan, ia berjalan ke arahku.

"Mau pulang, Ta?"

"Ya. Mau sekalian kuantar?"

"Tidak mungkin, Ta, masih banyak yang harus aku kerjakan. Kamu duluan aja."

"Ya sudah. Sepertinya sekarang aku mengganggu pekerjaan kamu. Aku pulang dulu ya. Malam, Lin!" kataku sembari berjalan menuju pintu keluar.




N.B. Aku lupa bertanya pada Alina mengenai wanita yang aku lihat tadi sore.

_____
3

Wednesday, March 26, 2014

Cafeine: Starts with No Jazz

Kamis. Blues mengeong meminta makanan lebih pagi dari biasanya. Terlalu pagi bahkan Cafeine belum menerima tamu. Sudah sekitar tiga kali aku singgah di sana sejak pertama dan dua hari lalu berkenalan dengan seorang wanita muda yang menjadi asisten kepala di Cafeine, Alina Alexandra. Ya, nama yang manis dan selaras dengan parasnya.

Ia orang yang ramah. Terkadang ia turun langsung melayani konsumen atau juga sebagai barista. Mungkin karena Cafeine tidak terlalu besar dan karyawannya masih terbilang sedikit. Katanya, ia bertempat tinggal tak jauh dari apartemen. Tapi, entah mengapa kami baru berpapasan di Cafeine.

Sepertinya ia orang yang menyenangkan.




N.B. Minggu ini batal diawali di cafeine.

_____
2

Cafeine: Pilot

Juliasco Nata Sastra Agara, biasa dipanggil Nata. Aku bernaung di apartemen yang cukup nyaman di pinggir kota, bersama kucing bernama Blues . Beberapa hari lalu, aku menjumpai sebuah kedai kopi yang letaknya hanya berbeda tiga blok dari apartemen. Mereka bilang, di sana adalah tempat yang tepat untuk bersantai. Hingga akhirnya, kemarin aku kunjungi kedai kopi tersebut.

Kenyataannya, kedai kopi itu baru berjalan dua atau tiga minggu. Dalam kunjungan pertama, aku langsung merasakan bahwa apa yang orang-orang katakan adalah benar. Mungkin karena yang kucari sederhana: Dekorasi klasik, sofa di sudut ruangan, live music. Setelah memesan cappuccino, aku duduk di sofa biru tua di lantai dua karena lantai satu merupakan area dilarang merokok. Aku tidak pandai menulis, tapi tetap saja aku menulis hampir setiap hari, termasuk sore itu.

Malam itu lebih gelap, tapi entah mengapa aku menikmatinya. Band malam ini mulai bersiap untuk tampil, seraya aku menyesap seteguk terakhir dalam cangkir. Tiga lagu telah dilantunkan, diantaranya lagu Bon Jovi dan Aerosmith. Ketika aku hendak turun ke lantai satu untuk kemudian kembali ke apartemen, gitaris band tersebut mengangguk dan menyapaku. Sempat berhenti sejenak, namun kemudian aku terus berjalan karena tak merasa mengenalnya.

Di lantai satu, ada tulisan pada semacam papan tulis untuk kapur, yang sebelumnya tidak kuperhatikan:

CAFEINE
6 AM - 1 AM
Monday: Jazz
Tuesday: Reggae
Wednesday: All-around
Thursday: Rock
Friday: Jazz
Saturday: All-around
Sunday: Rock

Aku keluar dari kedai kopi sambil berpikir, mungkin aku akan kembali lagi esok hari untuk mengawali minggu dengan secangkir americano.




N.B. Sampai sekarang aku tak bisa ingat lagu pertama yang mereka bawakan.

_____
1